Inovasi Pembelajaran IPA Biologi: Menghidupkan Klasifikasi dengan KKA
Selamat datang di era pembelajaran masa kini! Apakah Anda sering merasa materi Klasifikasi Makhluk Hidup sulit dipahami murid karena terlalu teoretis? Kini saatnya kita membawa transformasi ke dalam kelas melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).Dalam draf perencanaan terbaru yang saya bagikan kali ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana materi klasifikasi tidak lagi sekadar hafalan taksonomi, melainkan sebuah petualangan logika yang mengintegrasikan KKA (Koding dan Kecerdasan Artificial).
Melalui perencanaan ini, murid akan diajak untuk:
Berpikir Kritis: Menyusun kunci determinasi secara fisik lewat jalur algoritma di lantai kelas.
Berinteraksi dengan AI: Menggunakan Generative AI sebagai asisten riset untuk menggali data biologis yang mendalam.
Menjadi Kreator Digital: Mentransformasikan pengetahuan biologi mereka menjadi Chatbot Klasifikasi interaktif menggunakan Scratch.
Modul ini disusun berdasarkan Kerangka Pembelajaran Mendalam Revisi 2025, memastikan setiap aktivitas tetap bermakna, berkesadaran, dan tentu saja menggembirakan bagi murid. Mari kita intip bagaimana kolaborasi antara sains, logika algoritma, dan kecerdasan buatan dapat menciptakan pengalaman belajar yang tak terlupakan!
Simak detail perencanaannya di bawah ini...
download (.doc) Arsyad Riyadi Januari 14, 2026 New Google SEO Bandung, IndonesiaBelajar IPA SMP Ternyata Bukan Cuma Hafalan: Yuk, Intip Apa Saja yang Dipelajari!
Halo teman-teman semua! Pernah nggak sih kalian merasa kalau pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) itu cuma soal menghafal nama latin atau rumus fisika yang ribet? Nah, kalau kita mengintip panduan kurikulum terbaru untuk tingkat SMP (Fase D), ternyata tujuannya jauh lebih keren dan aplikatif untuk kehidupan kita sehari-hari.
Mari kita bedah apa saja yang bakal dipelajari anak SMP di pelajaran IPA dengan bahasa yang lebih santai!
1. Kenapa Kita Harus Belajar IPA?
Bukan sekadar biar dapat nilai bagus, belajar IPA itu sebenarnya melatih kita untuk berpikir seperti ilmuwan. Tujuannya adalah agar kita punya rasa ingin tahu yang tinggi, bisa berpikir kritis, jujur, dan solutif dalam menghadapi tantangan zaman seperti perubahan iklim atau inovasi teknologi.
2. Apa Saja yang Kita Pelajari? (Pemahaman IPA)
Di fase SMP, materinya sangat lengkap dan mencakup berbagai aspek kehidupan:
Dunia Makhluk Hidup: Kita akan belajar cara mengidentifikasi makhluk hidup, memahami sistem organisasi kehidupan (dari sel sampai organ), hingga belajar tentang sistem reproduksi dan pewarisan sifat. Bahkan, kita diajak bikin bioteknologi konvensional sendiri, lho!
Materi dan Zat: Kita akan menganalisis sifat dan perubahan zat. Bagian pentingnya, kita dilatih untuk mengevaluasi keputusan yang tepat agar terhindar dari zat aditif dan adiktif yang berbahaya bagi tubuh.
Energi, Gaya, dan Gerak: Mempelajari bagaimana benda bergerak, pengaruh tekanan, hubungan usaha dan energi, hingga bagaimana kalor (panas) berpindah dan memengaruhi suhu.
Gejala Alam dan Teknologi: Mengenal gelombang, kelistrikan, dan magnet. Menariknya, kita juga diajak mencari solusi energi melalui sumber energi listrik yang ramah lingkungan.
Bumi dan Antariksa: Memahami posisi Bumi, Bulan, dan Matahari untuk menjelaskan fenomena alam serta bagaimana cara kita merancang upaya mencegah perubahan iklim.
3. Belajar Sambil Praktik (Keterampilan Proses)
Ini bagian yang paling seru! Kamu nggak cuma duduk diam, tapi melakukan aksi nyata melalui 6 langkah utama:
Mengamati: Mencatat fenomena di sekitar sesuai karakteristik objeknya.
Mempertanyakan & Memprediksi: Mengidentifikasi apa yang bisa diselidiki secara ilmiah dan menebak hasilnya.
Penyelidikan: Merencanakan langkah kerja, menggunakan alat ukur yang akurat, dan paham bahwa dalam penelitian bisa saja ada kekeliruan.
Analisis Data: Mengolah data ke dalam tabel atau grafik untuk mencari pola dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.
Evaluasi & Refleksi: Belajar kritis terhadap hasil sendiri, mencari tahu sumber ketidakpastian data, dan cara meningkatkan kualitas data tersebut.
Komunikasi: Menyampaikan hasil temuanmu secara sistematis dengan argumen yang kuat dan bahasa yang tepat.
Kesimpulannya...
Belajar IPA di SMP sekarang lebih fokus pada penerapan dan karakter. Kita tidak hanya belajar "apa itu energi", tapi "bagaimana energi bisa menyelamatkan bumi". Kita tidak hanya belajar "apa itu sel", tapi "bagaimana menjaga kesehatan tubuh dari zat berbahaya".
Jadi, jangan takut duluan ya sama IPA. Anggap saja ini petualangan untuk menjadi pahlawan bagi lingkungan dan diri sendiri!
Arsyad Riyadi Januari 14, 2026 New Google SEO Bandung, IndonesiaMateri IPA Kelas VIII SMP
![]() |
| https://pixabay.com/vectors/kids-students-back-to-school-boy-160168/ |
| Sumber : Model Silabus Mapel IPA, Kemdikbud, 2017 |
Penyajian materi yang lebih terpadu antara fisika dengan biologi pun nampak, misalnya pada pembahasan listrik statik yang dihubungkan dengan sistem saraf, kelistrikan dengan jantung, kelistrikan pada tulang, bahkan sampai pembahasan ikan-ikan yang mengandung listrik.
Contoh lain dalam pembahasan tekanan. Tekanan dalam fisika ini dihubungkan dengan tekanan pada tubuh manusia. Tekanan zat cair dihubungkan dengan tubuh manusia yang meliputi tekanan osmotik, tekanan darah, dan difusi pada alat pencernaan.
Dengan menghubungan teori/hukum/fenomena antara fisika dengan biologi dan tentunya dengan kimia, akan menjadikan IPA menjadi mata pelajaran yang benar-benar terpadu. Tentunya hal ini membutuhkan nalar yang lebih tinggi. Dengan pola penyajian yang seperti ini diharapkan siwa akan dapat memasuki ranah HOTS (Higher Order Thinking Skill) atau Kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sesuai dengan taksonomi Bloom edisi revisi yaitu sampai tahap menganalisis (C3), mengevaluasi (C4), dan mencipta (C6).
Berikut ini adalah materi IPA dari kelas VII - IX
Ruang lingkup materi IPA kelas VII
1. Obyek ilmu alam dan pengamatannya
2. Klasifikasi makhluk hidup
3. Sistem organisasi kehidupan
4. Energi
5. Interaksi antarmakhluk hidup
6. Pencemaran lingkungan
7. Perubahan iklim
8. Lapisan bumi dan bencana
9. Tata surya
10. Unsur, senyawa, dan campuran
Ruang lingkup materi IPA kelas VIII
1. Gerak dan gaya
2. Usaha dan pesawat sederhana
3. Rangka dan Otot
4. Tekanan zat
5. Getaran, Gelombang, dan Bunyi
6. Cahaya
7. Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
8. Sistem pencemaran
9. Sistem peredaran darah
10. Sistem pernapasam
11. Sistem ekskresi
12. Zat aditif dan adiktif
Ruang lingkup materi kelas IX
1. Sifat bahan
2. Kelistrikan
3. Kemagnetan
4. Teknologi ramah lingkungan
5. Reproduksi
6. Perkembangbiakan hewan dan tumbuhan
7. Pewarisan sifat
8. Bioteknologi
9. Tanah
Arsyad Riyadi Januari 06, 2019 New Google SEO Bandung, Indonesia
Banyak orang yang mendambakan kemapanan. Sehingga ketika ada perubahan, maka reaksi mereka pun bermacam-macam. Sebagian menerima, sebagian menolak, dan sebagian lainnya acuh tak acuh.
Yang menerima pun bermacam-macam jenisnya. Ada yang benar-benar menerima dengan segala konsekwensinya (misalnya dengan belajar banyak hal) ataupun asal menerima. Demikian juga yang menolak, ada yang asal menolak karena tidak menyukai perubahan. Ada juga yang menolak karena merasa apa yang sudah ada masih layak untuk dipakai.
Demikianlah, berbagai tanggapan pro kontra terjadi ketika kurikulum 2013 akan diterapkan.
Dalam tulisan ini, kita akan menelisik ke belakang bagaimana kurikulum di Indonesia terus menerus mengalami perubahan.
(Imas Kurniasih, 2014) membagi kurikulum di Indonesia menjadi 3 kelompok, yaitu rencana pelajaran, kurikulum berbasis tujuan, dan kurikulum berorientasi kompetensi).
1. Kurikulum Rencana Pelajaran (1947 – 1968)
Meliputi kurikulum 1947, 1952, 1964, dan 1968.
2. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975 – 1994)
Meliputi perubahan kurikulum 1975, 1984, dan kurikulum 1994.
3. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004
4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006
5. Kurikulum 2013
Kalau dihitung, sekurang-kurangnya, sejak kemerdekaan, Indonesia telah mengalami 10 kali perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan ini didasarkan pada situasi kondisi berupa tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia saat itu.
Pada kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran 1947), tujuannya lebih menekankan kepada pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
Pada kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai 1952), harus memperhatikan hal-hal berikut : pendidikan pikiran harus dikurangi, isi pelajaran harus dihubungkan terhadap kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani serta kewarganegaraan dan masyarakat.
Pada kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan 1964), menitikberatkan pada pengembangan cipta rasa, karsa, karya dan moral, yang kemudian dikenal dengan Pancawardhana.
Pada kurikulum 1968, pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila yang sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Pada prinsipnya kelahiran kurikulum ini sangat bersifat politis, yaitu menggantu rencana pendidikan 1964 yang dicitrakan dengan produk orde lama.
Pada kurikulum 1975, untuk pertama kalinya terlihat dengan jelas tujuan pendidikan. Dari tujuan tersebut diuraikan tujuan-tujuan yang akan dicapai seperti tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, dan berbagai rincian lainnya.
Pada kurikulum 1984, terjadi penyempurnaan dari kurikulum 1975. Hal yang menonjol pada kurikulum 1984 adalah adanya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan Sistem Spiral. Di sini pembelajaran mulai bergeser dari teacher oriented ke student oriented. Dan dengan sistem spiral, maka semakin tinggi jenjang pendidikannya, materi yang diberikan makin dalam dan detil.
Pada Kurikulum 1994, pembelajaran lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat. Dan dalam pelaksanannya, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, mencakup beberapa kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa.
Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, guru dan sekolah lebih memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolah masing-masing.
Pada kurikulum 2013, menurut Mendikbud, lebih menekankan pada kompetensi berbasis sikap, ketrampilan, dan ketrampilan. Salah satu ciri pada kurikulum ini adalah guru dituntut untuk berpengetahuan sebanyak-banyaknya karena siswa lebih leluasa dalam mengakses berbagai informasi melalui perkembangan ICT/TIK.
Guru sebagai salah satu komponen penting penggerak kurikulum dituntut untuk mampu menerapkannya dalam rencana pembelajaran di kelas-kelas. Tentunya, ada yang siap dan ada yang tidak. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Ada yang proaktif dan ada yang reaktif.
Belajar dari sejarah perkembangan kurikulum di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan kurikulum adalah keniscayaan. Tantangan setiap zaman berubah.
Dari dunia luar, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi begitu pesat. Berbagai tayangan lewat media televisi, majalah/surat kabar, internet yang begitu menarik menjadi saingan tersendiri bagi para siswa, ketimbang membaca buku-buku/LKS yang begitu-begitu saja. Untuk itulah sudah saatnya guru, bukan lagi belajar menggunakan komputer tetapi sudah sampai tahap memanfaatkan komputer untuk mendukung pembelajaran. Buatlah konten yang menarik, berupa video, animasi, simulasi, dan konten-konten lain yang sarat multimedia dan interaktif. Nah di sinilah guru dituntut untuk terus belajar. Belajar sepanjang hayat.. life long education..bisa menjadi jargon untuk mau dan mampu mengimplementasikan kurikulum 2013.
Demikian juga, adanya tantangan dari dalam pendidikan sendiri. Pendidikan sudah mengalami pergeseran, dari berorientasi guru ke arah berorientasi siswa. Kita sudah belajar tersebut sejak tahun 2004 melalui CBSA sampai sekarang. Tidak lagi saatnya menjadikan diri sebagai guru yang “menakutkan”. Menginginkan kelas yang “sunyi senyap”..kelas yang “tenang”. Dan ini tantangannya. Bagaimana mengembalikan kelas kepada situasi yang membuat siswa senang dan nyaman, sementara pembelajaran yang dilakukan juga bisa mencapai tujuannya.
“Masuklah ke dunia anak, baru perkenalkan dunia kita kepada mereka”. Inilah asas dari Quantum Teaching, yang bisa kita gunakan.
Hal ini senada dengan, “Mencoba mengerti dulu baru dimengerti”, sebagai kunci menjalin hubungan, seperti yang dikatakan oleh Stephen R. Covey.
Akhirnya, mari kita sambut kurikulum 2013 dengan terus-menerus memperbaharui diri. Sebuah filosofi Tao yang bagus, yang mengatakan “banyak melakukan tetapi tidak merasa melakukan”.
No losing of hope menyikapi perubahan-perubahan yang seringkapi tidak sesuai keinginan. Arsyad Riyadi Juli 30, 2014 New Google SEO Bandung, Indonesia
Teringat ketika, saya masih SMP. Waktu itu memasuki kelas 2. Ada seorang guru perempuan yang katanya “killer”, meskipun di sisi lain kami merasa dekat dan merasa sedih ketika beliau pindah sekolah. Beliau cantik tetapi kalah kecantikannnya dengan kegalakannya. Ini menurut saya loh.
Waktu itu ada tugas mengerjakan PR dari buku paket. Tak terbayangkan saya hanya kekurangan 2 soal dari 20 soal, berakibat saya harus mengulangi mengerjakan PR tersebut sebanyak sepuluh kali. Seingat saya ini adalah soal pilihan ganda yang cara mengerjakannya, baik soal maupun jawaban harus ditulis lagi.
Usut punya usut, ternyata buku yang saya pakai adalah buku edisi lama. Sedangkan yang dipakai saat itu adalah buku revisi.
Kedua saat saya SMA. Ceritanya ada tugas meringkas dari buku. Entah perintahnya tidak jelas atau teman-teman yang tidak sempat (baca : agak malas), maka seminggu berikutnya hanya 2 orang yang menyelesaikan ringkasannya. Termasuk saya, yang mendapat nilai 90 dari sebuah ringkasan. Kesamaan dengan cerita “salah buku di SMP” adalah saya masih menggunakan buku edisi lama. Perbedaannya adalah di SMA saya sukses pakai buku edisi lama.
Apa yang menarik dari cerita di atas?
Waktu itu jelas, saya tidak memahami apa itu kurikulum. Tidak pernah guru-guru bercerita, kurikulum apa yang dipakai. Saya masuk SMP pada tahun 1990, berarti saat itu yang dipakai kurikulum 1984. Wajar dalam kurun waktu tersebut buku-buku terus direvisi. Baru ganti buku saya sudah merepotkan, apalagi ganti kurikulum.
Saya ingat betul, bahwa buku-buku yang saya pakai dari awal sekolah (MI), kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA lebih banyak menggunakan buku-buku sisa peninggalan kakak saya. Dari yang selisih sekolahnya 10 tahun sampai yang 2 tingkat di atas saya. Dalam banyak hal saya mempunyai bahan bacaan yang berbeda dari teman-teman sekelas. Di sisi lain terasa merepotkan, karena harus juga menyesuaikan dengan referensi yang dipakai saat itu. Hal ini terasa bermasalah ketika pelajaran-pelajaran non eksak.
Tambahan sana-sini pada buku revisi harus ditulis, baik di buku saya yang lama maupun dalam catatan.
Penggunaan buku-buku lama tersebut terus berulang. Bahkan sampai mau UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan sampai sekarang jadi guru. Sejak tahun 2004 – 2014, buku-buku kurikulum 1994.
Dan saya tidak menemukan masalah yang berarti, ketika harus memakai buku-buku lama tersebut. Misalnya ketika dulu mengajar di SMA/SMK tahun 2004, saya masih setia dengan buku-buku Olimpiade Fisika-nya Yohanes Surya yang diterbitkan tahun 1996. Olimpiade sendiri singkatan dari TeOri dan Latihan Fisika Menghadapi Masa Depan. Termasuk buku Fisika-nya Nyoman Kertiasa yang diterbitkan pertama kali tahun 1993 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan seingat saya , buku Fisika waktu saya SMA (karangan Yohanes Surya yang diterbitkan oleh Intan Pariwara tahun 1986) juga masih dipakai.
Demikian juga ketika kurikulum 2004, 2006 dan sekarang kurikulum 2013. Buku-buku edisi lama pun masih bertengger dengan manisnya. Selalu siap menjadi salah satu referensi dalam mengajar.
Mungkin ada yang bertanya..Anda kan guru, bisa mengambil materi dari buku sana-sini. Bagaimana dengan para siswa?
Jawaban saya sederhana.
Apapun kurikulumnya, gurunya tetap. Perubahan apapun dalam kurikulum tidak serta merta mengorbankan apa yang telah dipunya sebelumnya.
Di perpustakaan banyak sekali buku-buku yang menumpuk. Siapa yang akan pakai? Yakinkah kita, kalau siswa-siswa mau meminjam buku-buku lama tersebut, kalau kita sebagai guru tidak mau memakainya. Padahal di banyak hal. Materi-materi di buku-buku terbaru masih banyak yang termuat di buku-buku lama tersebut. Bahkan beberapa isinya jauh lebih lengkap. Hitungannya sederhana. Ketika satu buku (misalnya buku BSE dan buku siswa kurikulum 2013) dipakai untuk 2 semester, yang memuat Fisika, Biologi dan Kimia untuk IPA SMP. Kita bandingkan dengan buku edisi lama, dengan 1 buku memuat 1 semester dan untuk 1 bidang saja (misalnya Fisika), tentunya buku yang lama relatif lebih lengkap isinya.
Dari gambaran tersebut, akan mengurangi anggapan adanya keharusan ganti buku saat ada pergantian kurikulum. Jangan sampai dengan ketersediaan buku-buku oleh pemerintah (dalam bentuk BSE, buku siswa maupun buku guru), membuat kita kehilangan kesempatan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tambahan karena segan untuk mencari informasi-informasi dari buku-buku lain. Arsyad Riyadi Juli 30, 2014 New Google SEO Bandung, Indonesia
Merindukan Kurikulum 2013
- Standar Proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
- Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat
- Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
- Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
- Penilaian berbasis kompetensi
- Pergeseran dari penilaian melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
- Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)
- Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
- Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama
penilaian
Model pembelajaran yang diterapkan mengacu pada teori konstruktivisme, yang memandang bahwa ilmu pengetahuan harus dibangun oleh siswa. Dalam hal ini siswalah yang membangun dan menemukan sendiri pengetahuannya. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi discovery learning (pembelajaran penemuan), problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), dan project based learning (pembelajaran berbasis proyek).
Dengan menerapkan kurikulum 2013, diharapkan tidak terjadi lagi pembelajaran yang dholim lagi. Kesemuanya mengarah kepada kompetensi religiusitas sebagai kompetensi pertama dan tujuan dari pendidikan.
Arsyad Riyadi Oktober 10, 2013 New Google SEO Bandung, Indonesia
Silabus IPA Fisika Kelas VII
Materi yang diajarkan di kelas VII, meliputi :1. Besaran dan satuan
Berisi tentang besaran pokok, besaran turunan dan satuannya. Juga mengenai konversi satuan , seperti panjang, masssa, waktu, luas, volume, kecepatan, dan pengenalan satuan lain.
2. Suhu dan pengukuran
Berisi tentang pengertian suhu, alat ukur (termometer), konversi suhu skala C, R, F dan K.Juga di dalamnya cara pembuatan termometer serta hubungan termometer skala X dengan skala celcius.
3. Pengukuran
Pengukuran merupakan kelajuntan dari materi besaran dan satuan. Tetapi lebih memfokuskan pada proses pengukuran (menggunakan penggaris, jangka sorong, mikrometer sekrup, maupun gelas ukur)
4. Asam, basa dan garam
Berisi pengertian asam, basa, garam, kekuatan asam, sampai larutan elektrolit
5. Unsur, senyawa, dan campuran
Berisi pengertian,, perbedaan, contoh dan manfaat berbagai unsur, senyawa dan campuran.
6. Wujud zat
Berisi tentang konsep wujud zat (padat, cair, dan gas) serta perubahan wujud, konsep adhesi dan kohesi, maupun kapilaritas
7. Massa jenis
Berisi tentang konsep massa jenis dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
8. Sifat fisika dan kimia
Berisi tentang sifat-sifat fisika dan fisika
9. Pemuaian
Berisi konsep pemuaian zat padat, cair, dan gas serta manfaat dan kerugian pemuaian dalam kehidupan sehari-hari.
10. Kalor
Berisi tentang konsep kalor, faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kalor, kalor jenis, azas black sampai ke perpindahan kalor (konduksi, konveksi, dan radiasi)
11. Pemisahan campuran
Berisi tentang berbagai teknik pemisahan campuran (penyaringan, penyubliman, penguapan dsb) sampai ke proses penjernihan air
12. Perubahan fisika dan kimia
Berisi tentang pengertian perubahan fisika dan kimia serta contoh-contohnya
13. Reaksi kimia
Berisi tentang sifat reaksi kimia, ciri-ciri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
14. Gerak lurus
Berisi tentang konsep gerak relatif, jarak dan perpindahan, kelajuan dan kecepatan, percepatan, gerak lurus beraturan (glb) dan gerak lurus berubah beraturan (glbb)
Download Silabus IPA Fisika Kelas VII Arsyad Riyadi September 24, 2012 New Google SEO Bandung, Indonesia
Perangkat yang dibutuhkan guru meliputi :
1. Kaldik (Kalender Pendidikan)
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan ini meliputi permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
Kaldik tahun pelajaran 2011/2012 dapat dilihat di sini atau langsung mendownload di sini (293.50 kb)
Download Silabus IPA Fisika kelas VII tahun pelajaran 2013/2014
Download Silabus IPA Fisika kelas VIII tahun pelajaran 2013/2014
Download Silabus IPA Fisika kelas IX tahun pelajaran 2013/2014
3. Prota (Program Tahunan) dan Prose (Program Semester)
Program tahunan merupakan perencanaan pelaksanaan program pembelajaran selama setahun yang meliputi materi, jam yang dibutuhkan, termasuk alokasi waktu untuk ulangan harian. Sedangkan program semesteran meliput perencanaan pelaksanaan dalam satu semester
Download Prota IPA Fisika Kelas VII
Download Prota IPA Fisika Kelas VIII
Download Prota IPA Fisika Kelas IX
Download KKM Kelas VIII
Download KKM Kelas IX
5. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
RPP pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. RPP dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yakni : kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian.
Setidaknya ada dua fungsi RPP dalam KTSP, yaitu fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan. Fungsi perencanaan RPP dalam KTSP adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan persiapan yang matang. Dalam fungsi pelaksanaan, RPP harus disusun secara sistemik dan sistematis, utuh dan menyeluruh, dengan berbagai kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang aktual.
Download RPP Kelas VII Semester Gasal
Download RPP Kelas VII Semester Genap
Download RPP Kelas VIII
Download RPP Kelas IX
Arsyad Riyadi September 02, 2011 New Google SEO Bandung, Indonesia









