• LinkedIn
  • Subcribe to Our RSS Feed

Senin, 22 Desember 2014

Implikasi Relativitas (3) : Massa Relativistik

Seperti halnya dengan panjang dan waktu, massa juga termasuk besaran relativistik. Massa suatu benda yang diamati oleh pengamat yang diam disebut massa diam (m0).  Massa benda yang diamati oleh pengamat yang bergerak terhadap benda dengan kelajuan v disebut massa relativistik Messenger.
Massa relativistik lebih besar dari massa diamnya.
image
image
Contoh :
Seseorang bermassa 60kg di bumi. Berapakah massa orang tersebut ketika berada dalam roket yang meluncur dengan kecepatan 0,8c?
Penyelesaian :
Massa diam orang (m0) = 60 kg
Kelajuan roket v = 0,8c => v/c = 0,8
image
Massa orang dalam roket yang diukur oleh pengamat di bumi adalah massa relativistik m, sehingga :
image

SKL IPA 15 : Cara Membuat Magnet

Desember 22, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , // No comments

Kompetensi :
Memahami konsep kelistrikan dan kemagnetan serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator :
Menjelaskan cara pembuatan magnet dan kutub-kutub yang dihasilkan.
Materi :
Cara membuat magnet
a. menggosok
b. menggunakan arus listik (elektromagnet)
c. induksi (mendekatkan magnet tanpa menyentuh)
image
Menentukan kutub utara pada elektromagnetik : tangan kanan menggenggam kumparan, putaran keempat jari sama dengan arah putaran arus dan ibu jari menunjukkan kutub utaranya.
Contoh :
Seorang siswa menggosokkan sebuah magnet dengan batang batang besi seperti pada gambar berikut :
image
Jenis kutub magnet L yang digosokkan dan kutub magnet P dan Q yang dihasilkan dalam percobaan dicatat dalam tabel berikut :
Percobaan kutub L ujung P ujung Q
1 K. utara K. selatan K. utara
2 K. selatan K. utara K. utara
3 K. utara K. utara K. selatan
4 K. selatan K. selatan K. utara

Hasil yang benar dilakukan pada percobaan ke ….
Jawab :
2 dan 4

Minggu, 21 Desember 2014

SKL UN IPA 13 : Rangkaian Listrik

Desember 21, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , // No comments

Kompetensi :
Memahami konsep kelistrikan dan kemagnetan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator :
Menentukan besaran-besaran listrik dinamis dalam suatu rangkaian (seri/paralel, Hukum Ohm atau
Hukum Kirchhoff) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Materi :
Hukum Ohm
V = I R atau
image
V = tegangan (Volt)
I = kuat arus listrik (A)
R = hambatan (ohm atau Ω)
1. Hukum I Kirchoff : ∑Imasuk = ∑Ikeluar
1. Rangkaian seri resistor (pembagi tegangan)
· I = I1 = I2 = I3
· V = V1 + V2 + V3
· RS = R1 + R2 + …
· untuk n hambatan yang sama :
RS = n R
untuk n hambatan yang sama :
RS = n R
1. Rangkaian paralel resistor (pembagi arus)
· V = V1 = V2 = V3
· I = I1 + I2 + I3
image
untuk n hambatan yang sama :
image
untuk dua buah hambatan  :
image
Contoh :
Perhatikan gambar rangkaian listrik berikut !
clip_image002
Bila voltmeter tampak pada gambar menunjukkan angka 120 Volt, maka ....
image
Jawab :
Saklar terbuka

Rp = 40 Ω + 80 Ω = 120 Ω
image
Saklar tertutup
image

SKL UN IPA 12 : LISTRIK STATIS

Desember 21, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , // No comments

Kompetensi :
Memahami konsep kelistrikan dan kemagnetan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator :
Menjelaskan gejala listrik statis dalam penerapan kehidupan sehari-hari.
Materi :
1. Atom terdiri dari inti atom (nukleon) dan elektron (muatan negatif) yang mengelilinginya. Inti atom terdiri dari proton (bermuatan positif) dan neutron (tak bermuatan).
2. Atom bermuatan positif jika kekurangan elektron (jumlah elektron < jumlah proton)
Atom bermuatan negatif jika kelebihan elektron (jumlah elektron > jumlah proton)
Atom bermuatan netral jika jumlah proton = jumlah elektron
3. Cara memberi muatan listrik
a. dengan digosok
Misalnya penggaris plastik yang digosok dengan kain wol akan bermuatan negatif karena elaktron dari kain wol pindah ke penggaris.
Batang kaca yang digosok dengan sutra akan bermuatan positif karena elektron dari kaca pindah ke sutra.
b. dengan metode konduksi
Misalnya, dengan menyentuhkan batang bermuatan positif ke ujung logam
c. dengan cara induksi
4. Sifat muatan listrik
Muatan yang sejenis tolak-menolak dan muatan yang tidak sejenis tarik-manarik.
5. Hukum Coulumb :
image
F = gaya Coulomb (N)
q = muatan listrik (c)
r = jarak kedua muatan listrik (m)
k = 9.109 N m2/C2
6. Medan listrik adalah daerah di sekitar suatu benda bermuatan listrik di mana benda bermuatan listrik lain yang berada di ruangannya akan mengalami gaya listrik.
7. Induksi listrik adalah pemisahan muatan listrik di dalam suatu penghantar karena penghantar didekati oleh (tanpa menyentuh) benda bermuatan listrik
8. Elektroskop digunakan untuk mengetahui suatu benda bermuatan listrik atau tidak
image

Elektroskop negatif, jika didekati benda negatif daunnya akan mekar.
Elektroskop negatif, jika didekati benda positif daunnya akan menguncup.
9. Suatu benda yang bermuatan listrik negatif jika dihubungkan ke bumi akan netral karena eklektron dari benda mengalir ke bumi.
Suatu benda yang bermuatan listrik positif jika dihubungkan ke bumi akan netral karena eklektron dari bumi mengalir ke benda.
Contoh :
Seorang siswa melakukan percobaan dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut :
image
Hasil percobaannya dicatat dalam tabel berikut :
Percobaan Kegiatan yang dilakukan Jenis muatan listrik yang dihasilkan
1 P digosok dengan Q P bermuatan listrik negatif
2 P digosok dengan S P bermuatan listrik positif
3 R digosok dengan Q R bermuatan listrik negatif
4 R digodok dengan S R bermuatan listrik positif

Hasil percobaan yang benar dilakukan pada urutan ke
A. (1) dan (3) C. (2) dan (3)
B. (2) dan (4) D. (1) dan (4)
Jawab : C

Model POE dalam Pembelajaran Fisika

Jika batu apung dimasukkan ke dalam gelas tersebut, apakah air di dalamnya akan tumpah.
Prediksikan, praktekan dan beri penjelasan

POE sendiri singkatan dari prediction, observation, and explanation. Dalam pembelajaran menggunakan model POE ada tiga langkah utama, yaitu :
1. Prediction atau membuat prediksi, yaitu membuat dugaan terhadap peristiwa fisika
2. Observation atau melakukan penelitiian, yaitu melakukan pengamatan tentang apa yang terjadi
3. Explanation atau membuat penjelasan, yaitu melalukan penjelasan terutama tentang kesesuaian antara dugaan dengan apa yang terjadi
Dalam melakukan dugaan, siswa berpikir secara leluasa. Dengan banyaknya dugaan yang muncul, dapat diketahui seberapa jauh penguasaan siswa terhadap persoalan yang akan dibahas. Di sini juga bisa diketahui adanya miskonsepsi atau salah konsep yang dialami siswa.
Dalam tahap observasi, siswa melakukan eksperimen atau percobaan untuk membuktikan dugaannya benar atau tidak. Di sini siswa harus benar-benar mengamati hasil percobaan dan menghubungkan dengan pengetahuan yang diyakininya. Dalam langkah ini, siswa dapat melihat apakah dugaannya sesuai atau tidak dengan hasil eksperimen.
Dalam tahap membuat penjelasan siswa sebelumnya melihat apakah hasil dugaannya sesuai dengan percobaannya. Jika dugaannya benar, maka siswa akan semakin mantap dengan konsep yang diyakininya. Siswa tersebut tinggal melengkapi pengetahuannya agar lebih lebih lengkap lagi. Sebaliknya, jika dugaannya berbeda dengan eksperimen/percobaan yang dilakukan, siswa dibantu untuk memahami mengapa dugaannya keliru. Mungkin saja ada yang salah dalam pemahaman konsepnya. Bila ini terjadi, maka siswa dapat mengalami perubahan konsep dari yang keliru menuju konsep yang benar.
Model ini dapat digabungkan dengan diskusi agar semua siswa menjadi lebih aktif dan lebih matang lagi pemahamannya. Inilah salah satu model yang bersifat konstruktivistik, karena siswa berusaha mencari pengetahuannya sendiri melalui dugaan, melakukan praktek dan membuat penjelasan.
Untuk kupasan lebih lanjut bisa melihat pada buku Metode Pembelajaran Fisika karangan Paul Suparno.

Membuat Animasi Pendidikan Untuk Memvisualisasikan Materi Pelajaran

Desember 21, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , // No comments


animasi pendidikan, visualiasi materi pelajaran
Buku Membuat Animasi Pendidikan
Sangat menarik ulasan teknik membuat animasi pendidikan yang disajikan oleh buku ini. Buku yang lengkapnya berjudul Making Educational Animation using Flash : Membuat Animasi Pendidikan Untuk Memvisualisasikan Materi Pelajaran ditulis oleh Priyanto Hidayatullah, Muhammad Amarulah Akbar dan Zaky Rahim. Priyanto Hidayatullah juga salah satu penyusun buku Membuat Mobile Game Edukatif dengan Flash.
Yang menarik dari buku Making Educational Animation using Flash ini adalah penyajian materi yang diberikan secara sederhana, praktis dan meliputi berbagai bidang pelajaran.




Dalam bidang biologi, ada 3 animasi yang dibuat yaitu :
- Anatomi Otak Manusia
- Animasi Sistem Reproduksi Manusia
- Sistem Pencernaan Manusia
Dalam bidang matematika dikerjakan 3 buah karya, yaitu :
- Luas Persegi
- Statistika
- Trigonometri
Dalam bidang kimia, ada 3 karya yaitu :
- Asam basa
- Laritan elektrolit
- Tabel periodik sederhana
Dalam bidang Fisika ada 3 karya, yaitu :
- Efek dopler
- Membuat animasi mobil bergerak interaktif
- Membuat animasi hukum pPascal
Program yang digunakan untuk membuat animasi, bahkan simulasi dalam buku ini adalah Adobe Flash CS.3 dengan ActionScript 2.0.
Adanya file latihan dalam bentuk .fla serta tutorial yang runtut, membuat buku ini sangat enak untuk dipelajari.
Tambahan lagi di akhir bab dikasih bonus cara membuat animasi quis interaktif.
Bagi para penikmat  aplikasi flash bahkan para pengembang aplikasi flash, khususnya yang bergelut di dunia pendidikan. Buku ini benar-benar recommended lah .
Tetapi jangan lupa, untuk menuliskannya dalam dalam daftra pustaka atau referensi jika memakai source kode dari buku ini. ATM..Amati, Tiru, Modifikasi menjadi kunci utama bagi pemula di flash untuk terus berkembang.
Salam animasi..

Sabtu, 20 Desember 2014

SKL UN 11 : Optik

Desember 20, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , // No comments

Kompetensi :
Memahami konsep-konsep dan penerapan, getaran, gelombang, bunyi, dan optik dalam produk
teknologi sehari-hari.
Indikator :
Menentukan sifat cahaya, besaran-besaran yang berhubungan dengan cermin/lensa atau penerapan
alat optik dalam kehidupan sehari-hari.
Materi :
Sifat-sifat cahaya
  1. Cahaya merambat lurus
  2. Cahaya dapat menembus benda bening
  3. Cahaya dapat dipantulkan
  4. Cahaya dapat dibiaskan
  5. Cahaya merupakan gelombang elektomagnetik
  6. Cahaya putih terdiri dari berbagai warna
Menentukan berbagai besaran fisika jika benda diletakkan di depan lensa atau cermin
Sifat bayangan dapat ditentukan dengan menggunakan 3 cara, yaitu menggunakan rumus, menggunakan gambar maupun melalui penomeran ruang.
a. Melalui perhitungan rumus
image                  image
bb. Melalui gambar
a.image         image
image    image
3. Melaui penomeran ruang
image
Contoh soal :
Perhatikan gambar cermin berikut!
image
Berdasarkan gambar tersebut, maka jarak bayangan yang terbentuk adalah ....
A. 6 cm, di depan cermin
B. 6 cm, di belakang cermin
C. 30 cm, di depan cermin
D. 30 cm, di belakang cermin
Jawab : C
R = 20 cm, f = 10 cm
s = 10 + 5 = 15 cm
image
image

Pembelajaran Fisika Model Anomali

Desember 20, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , // No comments

Model anomali, ini saya dapatkan dari buku Metodologi Pembelajaran Fisika : Konstruktivistik dan Menyenangkan, karangan Paul Suparno.
Anomali sendiri berasal dari bahasa latin, anomalia, yaitu kekecualian. Misalnya, ketika di kelas sejumlah siswa rata-rata kulitnya sawo matang, khas kulit Indonesia. Ketika ada seseorang yang ternyata berkulit putih bersih, maka anak tersebut masuk dalam perkecualian. Bahkan mungkin bukan dianggap orang Indonesia asli.
Mengamati hal yang aneh, sesuatu yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri dalam pembelajaran Fisika.
Dalam pembelajaran model anomali ini, siswa dihadapkan pada kejadian yang berbeda seperti yang diyakini oleh siswa secara kebanyakan.
Misalnya, air yang dipanaskan ternyata tidak memuai. Hal ini tidak sesuai dengan keyakinan siswa bahwa suatu benda yang dipanaskan akan memuai.
Ternyata, ada kasus khusus pada air, yaitu ketika dipanaskan dari suhu 0 - 40C malah menyusut. Peristiwa penyusutan ini, akan membuat siswa bertanya-tanya dan berpikir lebih mendalam, "mengapa hal ini terjadi?"

Model anomali ini sangat baik untuk membantu siswa melakukan perubahan konsep serta memperbaiki konsep yang selama ini kurang tepat atau tidak benar. Dengan konsep anomali ini, siswa menjadi sadar bahwa konsep yang selama ini mereka ketahui ternyata masih ada yang salah.

Bagaimana langka pembelajaran Anomali?
Paul Suparno dalam bukunya tersebut menuliskan sebagai berikut.

  • Persoalan yang sering menimbulkan gagasan tidak benar atau miskonsepsi dalam fisika diungkapkan olehh guru
  • Siswa diminta mengungkapkan gagasan mereka tentang persoalan itu
  • Peristiwa atau kejadian anomali yang bertentangan dengan gagasan siswa ditunjukkan atau dipresentasikan pada siswa
  • Siswa diminta mengamati, meneliti, kejadian itu dalam-dalam
  • Siswa dapat diberi pertanyaan:"Apakah gejaka itu salah? Apakah benar? Kalau benar mengapa demikian?"
  • Siswa diminta untuk mengungkapkan lagi jawaban mereka tentang pertanyaan awal, apakah sudah berubah atau masih tetap sama.
  • Siswa dibantu oleh guru mencoba menyimpulkann gagasan atau konsep yang baru berdasarkan peristiwa anomali tersebut.
  • Catatan : model ini dapat digabung dengan model diskusi
Agar pembelajaran anomali ini berjalan dengan baik, ada beberapa hal
yang harus dipersiapkan :

  • Guru harus mengerti gagasan siswa yang sering kurang tepat atau salah.
  • Guru perlu memilih peristiwa atau kejadian yang berlawanan dengan gagasan umum siswa secara teliti
  • Ujilah peristiwa anomali tersebut sebelum ditunjukkan ke siswa
  • Kadang yang ditemukan sebagai anomal, sebenarnya bukanlah anomali tetapi hanya karena aneh atau tidak biasa bagi siswa, Di sini tugas guru untuk menjelaskan.
Perhatikan gambar es teh berikut!
Bila es mencair semua, apakah air di dalam gelas akan tumpah?
Sumber : http://pangeranmenulis.blogspot.com/2013/09/es-teh-manis.html




Selasa, 16 Desember 2014

Praktikum : Identifikasi Bahan Serat

Desember 16, 2014 // by Arsyad Riyadi // , , , , // No comments

IMG_20141023_125622
A. Tujuan
Mengidentifikasi Ciri-ciri Serat
B. Alat dan Bahan
  1. Potongan-potongan kain perca sebanyak 5 macam
  2. Air
  3. Korek api
  4. Wadah
C. Cara Kerja
1. Bekerjalah dengan kelompokmu!
2. Kumpulkan 5 macam potongan-potongan kain perca yang terbuat dari bahan serat yang berbeda-beda berukuran lebih kurang 2 X 5 cm.
3. Beri nomor pada potongan bahan serat tersebut.
4. Teliti dan identifikasi sifat fisik bahan tersebut satu per-satu dengan cara berikut.
a. Rabalah potongan-potongan bahan tersebut untuk melihat kehalusan/kelembutan bahan.
b. Perhatikan permukaan potongan-potongan bahan untuk mengidentifikasi kemengkilapannya.
c. Remas-remaslah dengan tanganmu potongan-potongan bahan tersebut untuk melihat kekusutannya.
d. Tarik-tariklah potongan bahan itu untuk melihat elastisitasnya.
e. Celupkan secara pelan-pelan ke dalam gelas berisi air, mulailah dari ujung potongan bahan. Untuk melihat daya serap terhadap air, hitunglah waktu yang diperlukan untuk membasahi potongan kain sepanjang 2 cm.
f. Tarik-tariklah potongan bahan yang basah untuk melihat kekuatannya.
5. Catat data yang kamu peroleh ke dalam Tabel 1 dengan memberi tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan sifat fisiknya.
Tabel 1 Sifat-sifat Fisik Bahan dari Serat Alam dan Sintetis image
6. Perhatikan bila gurumu melakukan demonstrasi membakar potongan-potongan bahan serat di atas nyala lilin. Bagaimanakah bau dan bentuk sisa pembakaran?
7. Catat data yang kamu peroleh ke dalam Tabel 2 dengan memberi tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan sifat fisiknya.
Tabel 2 Sifat-Sifat Bahan dari Serat Alam dan Sintetis Apabila Dibakar
image
Berdasarkan data pada Tabel 2, kerjakan tugas berikut.
1. Kelompokkan bahan-bahan yang termasuk serat alami dari selulosa.
2. Tuliskanlah sifat-sifat fisik produk dari serat alami (kapas).
3. Kelompokkan bahan-bahan yang termasuk serat alami dari sutera atau wol.
4. Tuliskanlah sifat-sifat fisik produk dari serat alami (wol dan sutera).
5. Kelompokkan bahan-bahan yang termasuk serat sintetis dari nilon dan
polyester.
6. Tuliskanlah sifat-sifat fisik produk dari serat sintetis (nilon dan polyester).
D. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan tuliskan kesimpulannya.