Home » , , » E-Learning dalam Pembelajaran Era Darurat Pendemi Covid 19

E-Learning dalam Pembelajaran Era Darurat Pendemi Covid 19

Tulisan berjudul E-Learning dalam Pembelaran Era Darurat Pendemi Covid 19 ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari artikel yang ditulis pada tahun 2011 berjudul Pengertian, Prinsip dan Peran E-learning dalam Pendidikan di blog ini. 
E-learning merupakan kegiatan yang merujuk pada penggunaan teknologi informasi dan teknologi pada pengajaran dan pembelajaran. E-learning meliputi pembelajaran online, pembelajaran virtual, pembelajaran terdistribusi, dan pembelajaran berbasis web dan jaringan.
Di era darurat pandemi covid 19 ini,ketika virus korona berhasil memaksakan institusi pendidikan untuk melakukan pembelajaran di rumah, gagasan e-learning terasa implementasinya. Saya menyebutnya gagasan, karena selama ini e-learning, di tempat saya bekerja, masih terasa di awang-awang. E-learning tidak terlaksana karena berbagai pertimbangan seperti keterbatasan sarana prasarana, sumber daya guru, sumber daya manusia dan seambreg alasan lain. Meskipun kalau jujur, e-learning belum terlaksana karena bukan merupakan kebutuhan atau "kepepet" alias terpaksa.
Meskipun kenyataannya, yang dilakukan sekarang masih masuk kategori pembelajaran online "sekecandake" karena masih terbatas pada penggunaan sumber daya yang semestinya. Yang saya temui, guru dan siswa bertemu lebih banyak di grup WA, penggunaan form online, link youtube, blog, dan fasilitas lainnya yang kurasa masih sangat minim. Boleh jadi karena tanpa persiapan, keterbatasan infrastruktur, maupun keterbatasan sumber daya.
Padahal jika dikelola dengan lebih baik, maka pembelajaran online ini bisa meningkat dalam porsinya, bukan sekedar sebagai tambahan (suplemen) tetapi memiliki porsi ke depannya. Konsep yang ditawarkan pembelajaran online mendekati 80 persen sehingga bisa masuk kategori pembelajaran bauran/blended/hybrid. Untuk level SMA/MA/SMK sampai ke level SMP/MTs bahkan SD, TK, Paud semakin kecil porsi online nya. Artinya pembelajaran tatap muka semakin besar porsinya.
Kok harus ada pembelajaran tatap muka?
Ya...ke depan tetap harus dipikirkan pembelajaran yang mengadopsi keunggulan pembelajaran konvensional (tatap muka) dengan keunggulan pembelajaran online yang dikenal dengan blended learning. Kita bukan hanya menilai kemampuan akademik berbasis online/digital tetapi juga penilaian lain yang nyata/riil/offline.
Meskipun ada banyak aplikasi yang mirip dengan kondisi asli/riilnya. Misalnya saat main game catur, ludo, ular tangga,monopoli dan aplikasi lain yang secara praktik dan aturan sama jika bermain secara online atau offline. Tetapi ada yang tak tampak ketika bermain secara online, seperti sikap, mental maupun kondisi lain dari pemain. 

Berikut adalah empat model e-learning menurut Som Naidu ( 2003), sebagai berikut :
1.Individualized self-paced e-learning online/e-learning online secara individual
Pembelajaran ini  merujuk pada situasi dari seorang pembelajar yang secara individual mengakses sumber belajar, seperti data base atau konten materi online melalui internet atau intranet.
2.Individualized self-paced e-learning offline/e-learning offline secara individual
Pembelajaran ini  merujuk pada situasi dari seorang pembelajar yang secara individual mengakses sumber belajar, seperti data base atau paket pembelajaran berbantuan komputer secara offline, seperti belajar menggunakan CD atau DVD.

3.Group based e-learning synchronously/e-learning berbasis kelompok secara serentak.
Pembelajaran ini  merujuk pada situasi dari sekelompok pembelajar yang belajar secara serentak (dalam waktu bersamaan) melalui internet atau intranet.  Kegiatan ini meliputi konferensi berbasis teks, audio, atau video.
4.Group based e-learning asynchronously/e-learning berbasis kelompok secara tak serentak.

Pembelajaran ini  merujuk pada situasi dari sekelompok pembelajar yang belajar tidak pada waktu yang bersamaan. Misalnya, diskusi online melalui mailing list atau konferensi berbasis teks dengan sistem manajemen pembelajaran (learning managements systems).

Hampir sama dengan dikemukakan Khoe Yao Tung (2000), yang membedakan ada 4 konfigurasi dalam penggunaan teknologi distance learning, yaitu Same Time Same Place (STSP), Same Time Different Place Instruction (STDP), Different Time Same Place Instruction (DTSP), dan Different Time Different Place Instruction (DTDP). Semua teknologi tersebut akan terus berkembang menjadi makin bersahabat (lebih bersifat pribadi dan fleksibel) bagi penggunanya dan seringkali dilakukan kombinasi satu sama lain.

Virtual classroom merupakan salah satu implementasi dari e-learning, dapat didefinisikan sebagai ruang kelas maya tempat interaksi belajar mengajar dengan bantuan komputer dan multimedia. Kelas maya ini seharusnya tidak jauh berbeda dengan kelas konvensional dalam hal proses belajar mengajarnya, yaitu adanya interaksi guru dan siswa. Bedanya dalam virtual classroom menggunakan perangkat-perangkat digital sebagai pengganti fasilitas-fasilitas yang digunakan dalam kelas konvensional.

Dalam pembelajaran tatap muka guru melakukan apersepsi dan motivasi serta pemberian materi, melakukan tanya jawab. Dalam pembelajaran online, misalnya dengan penggunaan blog/grup WA dan sejenisnya, guru memberikan materi dengan cara menuliskan atau copy paste  atau menyuruh siswa untuk membuka link blog. Setelah itu, guru bertanya melalui grup WA atau memberi pertanyaan di blog untuk didiskusikan. Siswa bisa menjawab lewat komentar di grup WA atau kolom komentar di blog.

Sampai tahap akhir, guru meminta siswa mendiskusikan bersama kelompoknya kemudian mempresentasikan di dalam kelas. Analogi pada pembelajaran online, siswa dengan membuat grup kelompok (misal lewat grup WA), saling diskusi, dan kemudian menyampaikan hasil diskusinya. Cara menyampaikan hasil diskusinya bisa dengan cara menuliskan atau screen shoot hasil diskusi kelompok baik di WA maupun lewat komentar di blog. Mengirim lewat upload ke google drive, youtube, blog siswa, email atau yang lainya tentunya juga diperbolehkan. Untuk selanjutnya link-nya ditarud di grup WA untuk dapat ditanggapi oleh kelompok lain.

Dalam pengembangan e-learning ini, bisa mengacu pada riset yang dilakukan oleh Richard Mayer di Universitas Kalifornia. Ruth Clark (2002), mengajukan enam prinsip dalam pengembangan e-learning, yaitu :
1.Prinsip multimedia
Penggunaan grafik yang tepat sesuai dengan teks dan tujuan pembelajaran dapat meningkatkan pembelajaran. Misalnya untuk menampilkan sebuah proses penyebaran virus lebih efektif menggunakan animasi daripada grafik yang statis.
2.Prinsip hubungan
Penempatan teks harus berdekatan dengan grafik. Untuk teks yang banyak, diatur sedemikian rupa sehingga antara teks dan grafik tidak terpisah (misalnya menggunakan kombinasi scrolling yang tepat). Penggunaan teks yang panjang sehingga ilustrasi jauh dibawahnya akan menyulitkan penggunanya.
3.Prinsip modalitas
Penggunaan audio dapat meningkatkan pembelajaran terutama untuk menjelaskan suatu animasi atau visualisasi dari materi yang komplek dan  tidak familiar.
4.Prinsip redundansi
Penjelasan grafik melalui audio dan teks yang berlebihan dapat merugikan pembelajaran. Misalnya suatu grafik cukup dilengkapi dengan teks. Pemberian narasi bisa mengganggu kenyamanan pengguna saat mengamati grafik tersebut.
5.Prinsip koherensi
Penggunaan tampilan visual, teks dan sound yang tidak tepat dapat merugikan pembelajaran.
6.Prinsip personalisasi
Penggunaan bahasa sehari-hari dan nara sumber lain dapat meningkatkan pembelajaran. Misalnya suatu CD pembelajaran akan lebih menarik jika digunakan bahasa keseharian dan diiringi dengan narasi dari nara sumber.

E-learning  ini harus mampu menyajikan pengalaman belajar yang bermakna melalui pemanfaatan teknologi dan informasi yang intensif. Seperti dikemukakan oleh Paulina Panen (2005), bahwa  e-learning  mampu untuk :
  1. Menfasilitasi  komunikasi dan interaksi antar siswa dengan tenaga pengajar dan nara sumber ahli
  2. Meningkatkan kolaborasi antar siswa untuk membentuk komunitas belajar
  3. Mendorong siswa untuk secara mandiri mencari sumber belajar dan mencapai makna
  4. Memberikan umpan balik lintas ruang dan waktu
  5. Memberikan akses kepada beragam sumber belajar
Jadi di era darurat sekarang ini, semua komponen harus belajar secara cepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan meminimalkan kelemahan-kelemahan yang mungkin. Beberapa hal yang perlu dikembangkan lebih lanjut sebagai berikut :
1. Guru mengembangkan dirinya bukan hanya memindahkan konten dari buku/lks/ dan sejenisnya semata-mata menjadi konten digital. Guru perlu mengubah konten tersebut menjadi lebih interaktif, menarik, dan komunikatif. Dari teks menjadi gambar selanjutnya menjadi video, animasi, simulasi dan konten menarik lainnya.
2. Siswa harus mampu mencari materi sesuai kebutuhannya secara mandiri agar tidak terjebak pada belantara internet yang rentan dengan menemukan konten lain yang menyesatkan.
3. Sekolah menyiapkan sumber daya manusia agar lebih literat dalam bidang digital atau teknologi informasi dan komunikasi.
4. Sekolah memberikan kemudian akses internet kepada semua warga sekolah melalui penyediaan sarana prasarana yang bagus maupun pembiayaan lainnya terkait dengan penyelenggaraan pembelajaran online atau e-learning ini.

Terakhir, tidak kalah pentingnya ketika permasalahan geografis tak dapat diatasi untuk mendapatkan akses internet yang bagi maka sekolah mencari solusi yang lain. Misalnya dengan pengembangan modul yang bagus untuk dipelajari, membagi konten-konten digital (video, animasi, gambar, dan lainnya) menggunakan flash disk/CD/DVD untuk dibaca melalui komputer/laptop/HP/tablet/TV.

Tak ada kata menyerah menghadapi keterbatasan-keterbatasan yang ada, Belajar dari rumah. Tetap cerdas dan semangat di era corona ini.

Referensi
1. Clark, Ruth. 2002. Six Principles of Effective E-learning : What Works and Why. Learning Solutions e-Magazine. Edisi : September 10, 2002.
2. Khoe Yao Tung. 2000. Pendidikan dan Riset di Internet. Jakarta : Dinastindo
3. Naidu, Som. 2003. E-learning : A Guidebook of Principles, Procedures and Practises. India : Commonwealth Educational Media Center for Asia (CEMCA)
4. Panen, Paulina. 2005. Pengembangan E-learning : Antara Mitos dan Kenyataan. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran ”Teknologi Pendidikan Menuju Masyarakat Belajar” . Jakarta, 5 – 6 Desember 2005.

Thanks for reading & sharing Sains Multimedia

Previous
« Prev Post

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Channel Youtube

Postingan Acak

Total Tayangan Halaman

Pengikut