Jumat, 30 Maret 2012

Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan

Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan

Filsafat konstruktivisme, dewasa ini, mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan. Dengan berlandaskan pada teori ini, model pembelajaran sangat berbeda dengan model pembelajaran klasik. Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku Metodologi Pembelajaran Fisika : Konstruktivistik dan Menyenangkan yang ditulis oleh Paul Suparno.
Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan  bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) bagi yang menekuninya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi. Pengetahuan adalah proses menjadi lebih tahu, lebih lengkap dan lebih sempurna. Misalnya pengetahuan tentang listrik. Di SD dikenalkan bahwa lampu menyala karena ada arus yang mengalir. Di SMP dikenalkan berbagai rangkaian listrik, di SMA diperdalam lagi sampai rangkaian yang lebih kompleks dan selanjutnya terus diperdalam di perguruan tinggi.
Secara prinsipal, para konstruktivis menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Pengetahuan dikonstruksikan sendiri atau paling sedikit diinterpretasikan sendiri oleh siswa dan tidak begitu saja dipindahkan.

Konstruktivisme Psikologis Personal (Piaget)
Konstruktivisme psikologis diawali oleh Piaget yang meneliti bagaimana seorang anak membangun pengetahuan kognitifnya. Seorang anak  mula-mula membentuk skema, mengembangkan skema, dan mengubah skema. Ia lebih menekankan bagaimana si individu secara sendiri mengkonstruksi pengetahuan dari interaksinya dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Pendekatan Piaget ini bersifat personal dan individual.
Dalam kasus belajar fisika, seorang anak diberi kebebasan untuk mempelajari sendiri dan kemajuannya dapat sendiri-sendiri. Tekanannya adalah siswa hanya dapat mengerti fisika bila ia sendiri belajar dan dengan demikian membangun pengetahuannya sendiri.

Sosiokulturalisme (Vygotsky)
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain terlebih yang memiliki pengetahuan lebih baik  maupun sistem/lingkungan yang telah berkembang dengan baik. Misalnya seorang yang belajar fisika dipertemukan dengan ahli fisika yang dapat bercerita tentang pengalaman, pemikiran maupun penemuan-penemuannya. Dalam keterlibatan ini siswa tertantang untuk mengkonstruksi pengetahuanny sesuai dengan konstruksi para ahli.
Menurut sosiokulturalisme, kegiatan seseorang dalam memahami sesuatu dipengaruhi oleh partisipasinya dalam praktek-praktek sosial dan kultural yang ada, seperti masyarakat, sekolah, teman dan lain-lain. Misalnya keadaan masyarakat yang mendukung pendidikan dapat membantu anak-anak berkembang lebih baik. Belajar berkelompok dapat membuat semakin yakin dengan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka dapat saling mengoreksi maupun melengkapi gagasan atau pendapat teman.
Konstruktivisme bersifat kontektual.  Jika konteksnya berbeda, maka siswa memahami konsepnya secara berbeda juga. Misalnya, seseorang anak menemukan bahwa titik didih air pada tekanan udara tinggi akan berbeda  ketika tekanan udaranya rendah.

Dampak Konstruktivisme Bagi Siswa yang Belajar
Belajar adalah proses yang aktif. Siswa sendiri yang membentuk pengetahuannya. Dalam proses belajar ini, siswa menyesuaikan konsep dan ide-ide yang baru dengan kerangka berpikir yang mereka miliki. Siswa sendiri yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar mereka.
Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta. Di dalamnya dipenuhi dengan proses berpikir, dari membuat hipotesa, memecahkan persoalan, berefleksi dan seterusnya sampai terbentuk pengetahuan yang baru.
Dalam mempelajari suatu konsep, misalnya gerak dalam fisika, siswa sudah membawa konsep-konsep fisika sebelum mengikuti pelajaran formal di sekolah.  Konsep-konsep yang mereka bawa sering tidak tepat dan tidak sesuai. Itulah yang disebut  miskonsepsi.  Pengertian awal inilah yang perlu dikembangkan dan diluruskan dalam belajar di sekolah.
Oleh karena pengetahuan dibentuk baik secara individual maupun sosial, maka belajar kelompok dapat dibentuk untuk mematangkan konstruksinya. Bagi siswa yang mempunyai gagasan salah, mereka dapat mengubahnya. Sedangkan bagi siswa yang mempunyai gagasan benar, dapat menjadi lebih yakin  dengan pengetahuannya.

Dampak Konstruksivisme Bagi Guru Fisika
Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari otak guru ke otak siswa. Mengajar lebih merupakan proses membantu siswa sendiri membangun pengetahuannya. Peran guru bukan mentransfer ilmu, melainkan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara cepat dan efektif.

Secara ringkas pendekatan mengajar konstruktivis dapat diungkapkan dalam beberapa sikap dan praktik sebagai berikut.
Sebelum guru mengajar
-    Guru menyiapkan bahan yang mau diajarkan dengan seksama
-    Guru mempersiapkan alat-alat peraga/praktikum yang akan digunakan
-    Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar
-    Guru sebaiknya mendalami keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa
-    Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa

Selama proses pembelajaran
-    Siswa dibantu aktif belajar, menekuni bahan
-    Siswa dipacu bertanya
-    Guru menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa menemukan sendiri pengetahuan mereka.
-    Pikiran dan gagasan siswa diikuti
-    Guru perlu menggunakan bervariasi metode pembelajaran
-    Siswa diajak melakukan kunjungan ke tempat pengembangan IPA seperti museum sains, laboratorium  tenaga atom, dll
-    Guru perlu mengadakan praktikum terpimpin maupun bebas terlebih untuk topik yang sulit sehingga siswa lebih mengerti
-    Siswa yang berpendapat salah atau lain tidak dicerca, sebaliknya pendapat mereka diperhatikan
-    Jawaban alternatif dari siswa diterima atau dibahas
-    Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif dan bukan dicela melulu
-    Pikiran siswa yang tidak tepat ditantang dengan menyediakan  data anomali yang berlawanan dengan gagasan siswa
-    Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka, tanpa harus dikejar-kejar waktu
-    Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah gagasan mereka itu tepat atau tidak
-    Siswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam belajar dan menemukan sesuatu
-    Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus menerus dan menyertakan proses belajar dalam evaluasi itu

Sesudah proses pembelajaran
-    Guru memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya
-    Guru perlu sering memberikan tugas lain untuk pendalaman materi
-    Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hapalan

Sikap yang perlu dipunyai guru
-    Siswa dianggap bukan tabula rasa, tetapi sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu
-    Model kelas : siswa aktif, guru menyertai
-    Bila ditanya siswa dan tidak dapat menjawab, guru tidak usah marah dan mencerca siswa. Lebih baik mengakuinya dan mencba mencari bersama
-    Menyediakan ruang tanya jawab dan diskusi
-    Guru dan siswa saling belajar
-    Dalam mengajar yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri
-    Guru perlu memberikan ruang untuk boleh salah bagi siswanya
-    Hubungan guru-siswa dialogal, saling dialog, dan kerja sama dalam mendalami pengetahuan
-    Guru mengembangkan pengetahuan yang luas dan mendalam
-    Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan dehingga dapat menjelaskan secara kontekstual

Kesimpulan
- Pengetahuan bukan ditransfer begitu saja tetapi dikonstruk sendiri
- Peran guru adalah menciptakan kondisi agar proses konstruksi pengetahuan siswanya berjalan dengan baik


Bacaan Rujukan
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta : Sanata Darma

0 komentar:

Poskan Komentar